Rabu, 06 Juni 2012

latar belakang

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pendidikan merupakan investasi yang ditanam pada masa kini untuk memanen hasil dihari ini,  hari esok, dan atau di masa mendatang. Agar investasi itu dapat membuahkan profit, maka di perlukan acuan kurikulum yang dapat menjamin derap peningkatan kemampuan peserta didik dalam berperan sebagai pelaku kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni menurut Poerwodarminto (1998:700). Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang dipergunakan sebagai pedoman penyelenggaraan  kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan  pendidikan tertentu. Berdasarkan  Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional  pasal 36 Ayat (2) ditegaskan bahwa kurikulum pada semua jenjang dan jenis pendidikan dikembangkan dengan prinsip diversifikasi sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik. Atas dasar pemikiran tersebut maka perlu dikembangakan  Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).
Penyampaian suatu materi pelajaran pada siswa yang heterogen ini, seorang guru harus memiliki sebuah keterampilan khusus dalam hal pengelolaan kelas agar proses pengajaran berlangsung secara efektif dan menyenangkan.
Apabila siswa-siswa yang dihadapi dalam proses belajar mengajar adalah siswa yang sangat lamban dalam menerima materi yang disajikan oleh guru pada sekolah dasar. Siswa perlu bimbingan khusus untuk tetap aktif dalam proses belajar mengajar sehingga mereka senantiasa termotivasi untuk mengetahui materi pelajaran yang disampaikan.
Menanggapi persoalan di atas banyak ahli pendidikan dan pengajaran memberikan solusi secara sederhana bahwa keragaman merupakan suatu hal yang tidak dapat dipungkiri. Oleh karena itu, pengajaran yang berbentuk kelompok dapat mengatasi permasalahan ini, akan tetapi tidak semua belajar kelompok itu berhasil mengaktifkan siswa dalam upaya  memahami materi belajarnya. Sejumlah siswa yang belajar kelompok biasanya cenderung pasif dan membiarkan temannya untuk menyelesaikan tugas kelompoknya secara keseluruhan. Adapula siswa yang memiliki kemampuan lebih dari teman-temannya yang lain cenderung mendominasi berlangsunngnya proses diskusi dalam belajar kelompok.
Syaiful Bahri Djamarah, (2000:32) menyatakan bahwa permasalahan yang sering muncul dalam penerapan metode belajar berkelompok antara lain : siswa bebas tugas dalam kelompok, dominasi salah satu siswa yang mengambil alih keseluruhan tugas kelompok, kelompok menghabiskan banyak waktu untuk berdiskusi, siswa mengguanakan bahasa ibu, masalah dalam penilaian, kelas yang rebut, kurangnya materi yang dipelajari, perangkat fasilitas kelas yang tidak mendukung, kenampakan siswa yang seolah-olah bermain-main saat belajar, siswa yang terabaikan (aktifitas siswa seperti si buta menuntun si buta).
Hal ini menyebabkan tidak adanya daya tarik yang dapat meningkatkan nilai belajar siswa sesuai dengan standar ketuntasan dalam belajar yang telah ditetapkan pada sekolah dasar dalam satu mata pelajaran. Untuk mata pelajarangan  matematika pada kelas IV peneliti mencoba untuk meningkatkan cara belajar siswa dengan bantuan model pendekatan interaktif yang dirangkaikan dalam proses belajar kelompok siswa dalam kelas. Model ini dianggap oleh peneliti sangat efektif, karena materi matematika diharuskan untuk berinteraktif dengan lebih dekat pada siswa, tidak hanya bercerita tentang perhitungan yang memang pada dasarnya sangat memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi dibandingkan pada mata pelajaran yang lainnya. Berdasarkan kenyataan diatas, maka penulis merancang kegiatan belajar yang dapat meningkatkan cara belajar matematika dengan hasil yang l;ebih baik sehingga diharapkan siswa dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
Pada SDN 8 Kabangka yang penulis observasi tampak siswa yang tidak begitu aktif dalam proses pengajaran. Hal ini disebabkan guru tidak melibatkan siswa dalam proses pembelajaran sehingga aktifitas belajar siswa sangat rendah. Akibatnya rata-rata hasil belajar matematika siswa kelas IV.A SDN 8 tahun 2010 sebelumnya 60 kurang dari nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) (65) yang telah menjadi ketetapan sekolah. Oleh karena itu, dengan kondisi belajar siswa seperti diatas diharapkan seorang guru mampu menjalankan proses pembelajaran dengan memberikan tugas kepada siswa agar dapat lebih mandiri dalam menemukan jawaban-jawaban dari soal dan beraktifitas dalam proses belajar mengajar. Sehubungan dengan hal tersebut sebagai peneliti dan sekaligus guru di sekolah ini mencoba untuk mengadakan penelitian tentang pemberian tugas kepada siswa.
Adapun judul penelitian ini adalah “Meningkatkan hasil belajar matematika pada materi kesetaraan antara satuan waktu, panjang, berat dan kuantitas melalui metode kerja kelompok pada kelas IV.A SDN 8 Kabangka.”
B.    Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah:  Apakah penerapan metode kerja kelompok dalam pembelajaran Matematika pada materi kesetaraan antara satuan waktu, panjang, berat dan kuantitas dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV.A SDN 8 Kabangka?”
C.    Tujuan Penelitian
Dalam penelitian ini yang ingin dicapai adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi pelajaran matematika kelas IV.A SDN 8 Kabangka melalui metode kerja kelompok?”
D.    Manfaat Penelitian
1.    Manfaat penelitian pembelajaran bagi guru adalah :
a.    Membantu guru dalam menciptakan pola pengajaran yang lebih terencana dengan hasil belajar siswa yang baik.
b.    Memberikan kemudahan dalam menentukan materi pembelajaran dan memudahkan sistem evaluasi kegiatan belajar.
c.    Meningkatkan rasa kreatifitas guru dan sebagai pendidik dapat berkembang secara aktif mengembangkan keterampilan dan pengetahuan.
d.    Menambah pengetahuan dalam mengelola dan merencanakan pembelajaran matematika dengan menggunakan model pembelajaran interaktif melalui metode kerja kelompok.
2.    Manfaat penelitian bagi siswa adalah untuk meningkatkan proses hasil belajar siswa, dan menumbuh kembangkan minat dan bakat siswa dalam belajar sesuai dengan kurikulum berbasis kompetensi, membantu mengakomodasi perbedaan, kesiapan, dan potensi siswa dalam belajar.
3.    Manfaat penelitian pembelajaran bagi sekolah adalah membantu sekolah untuk berkembang karena adanya upaya seorang guru meningkatkan kemampuan professional pada diri guru serta menciptakan iklim belajar yang kondusif dalam lingkungan pendidikan di sekolah tersebut.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar